KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةً، وَأَمَرَهُمْ بِالتَّرَاحُمِ وَالتَّعَاطُفِ وَالتَّنَاصُرِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّفَرُّقِ وَالتَّخَاذُلِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهًا وَاحِدًا رَبًّا وَاحِدًا، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَكَشَفَ اللَّهُ بِهِ الْغُمَّةَ، فَصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أَمَّا بَعْدُ،
فَأُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعِبَادِ، وَهِيَ سَبَبُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
عِبَادَ اللَّهِ،
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
Palestina Masih Terluka, Dunia Jangan Membisu
Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Rabb semesta alam, yang masih memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan kesempatan untuk berkumpul di hari yang mulia ini. Dialah Allah yang mempertemukan hati-hati kaum muslimin dalam ukhuwah dan kepedulian. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik sepanjang zaman, pemimpin umat yang penuh kasih sayang, dan pemberi syafaat yang sangat kita nantikan pada hari ketika tidak ada pertolongan selain dari-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, di hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Karena takwa adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup, cahaya di tengah gelapnya zaman, dan benteng yang menjaga hati dari kelalaian. Dengan takwa, hati menjadi lembut, kepedulian tumbuh, dan kita tidak akan pernah menutup mata terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang tertindas.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, belum lama ini kita—kaum muslimin di Indonesia—merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Kita merayakan hari kemenangan, Hari Raya Idulfitri, berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan, saling memaafkan, dan merasakan suasana aman serta penuh kegembiraan. Namun di saat kita bergembira, ada saudara-saudara kita di Palestina yang justru masih bergelut dengan duka dan penderitaan. Palestina bukan sekadar berita yang datang lalu hilang, bukan pula luka yang telah sembuh. Hingga hari ini, penderitaan itu masih nyata, bahkan terus bertambah. Beberapa waktu lalu, pada 6 April 2026, serangan udara di Gaza kembali menewaskan sedikitnya 10 warga Palestina di dekat sekolah pengungsian, sementara serangan lain di hari yang sama kembali merenggut korban jiwa. Di tengah reruntuhan dan kepedihan itu, angka korban terus meningkat. Bahkan disebutkan bahwa jumlah korban telah mencapai lebih dari 72.000 jiwa, dan sebagian besar wilayah Gaza kini hancur. Ini bukan sekadar angka, tetapi nyawa manusia, anak-anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan umat yang kehilangan rasa aman.
Jamaah Jumat rahimakumullah, ini bukan sekadar konflik politik, bukan sekadar perebutan wilayah, tetapi ini adalah penderitaan saudara seiman kita. Mereka adalah saudara kita dalam akidah, saudara kita dalam iman, saudara kita dalam doa yang sama. Ketika mereka menangis, seharusnya hati kita ikut terluka. Ketika mereka kehilangan, seharusnya kita tidak bisa tinggal diam. Jika hari ini kita masih bisa hidup dalam keamanan, maka jangan sampai kita melupakan mereka yang hidup dalam ketakutan. Karena kepedulian terhadap penderitaan saudara seiman bukan hanya soal kemanusiaan, tetapi juga panggilan iman yang seharusnya menggugah hati setiap muslim.
Palestina: Negeri Bersejarah Kaum Muslimin
Ma’asyiral muslimin rahimaniyallahu wa iyyakum, ketika kita berbicara tentang Palestina, maka kita tidak sedang membicarakan tanah biasa. Palestina adalah tanah para nabi, tanah yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Islam. Di sanalah berdiri Masjid Al-Aqsha, masjid suci yang disebut langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1 tentang perjalanan Nabi Muhammad ﷺ menuju Masjid Al-Aqsha yang diberkahi sekelilingnya. Ayat ini menunjukkan bahwa Palestina adalah tanah yang memiliki nilai spiritual yang tinggi bagi umat Islam. Bahkan sebelum Ka’bah menjadi kiblat, Masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama kaum muslimin. Maka hubungan kita dengan Palestina bukan sekadar hubungan geografis, tetapi hubungan iman, sejarah, dan aqidah yang tidak bisa dipisahkan.
Namun, Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, tanah yang diberkahi itu hari ini justru terus terluka. Akses menuju Masjid Al-Aqsha dibatasi, jamaah dipersulit, bahkan pada Ramadhan 2026 jumlah jamaah dibatasi secara ketat oleh otoritas Israel. Di bulan yang penuh keberkahan, ketika umat Islam berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah, saudara-saudara kita justru dihalangi untuk beribadah di masjid suci mereka sendiri. Ini bukan sekadar pembatasan, tetapi luka bagi sejarah Islam dan ujian bagi kepedulian umat Islam. Maka ketika Palestina terluka, sejatinya sejarah Islam juga terluka, dan ketika Masjid Al-Aqsha terancam, maka iman kita diuji, apakah kita masih peduli terhadap saudara-saudara kita ataukah kita memilih untuk diam.
Hak yang Dirampas
Ayyuhal muslimun rahimakumullah, apa yang terjadi di Palestina bukanlah konflik biasa sebagaimana yang sering digambarkan, melainkan perampasan hak yang terus berlangsung hingga hari ini. Rakyat Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka, tanah mereka dirampas, dan kehidupan mereka dihancurkan secara perlahan. Laporan terbaru menyebutkan bahwa ribuan warga Palestina masih hidup dalam pengungsian, sementara banyak di antara mereka tidak dapat kembali ke Gaza karena pembatasan ketat di perbatasan Rafah. Mereka kehilangan rumah, kehilangan tanah kelahiran, bahkan kehilangan tempat untuk kembali. Ini bukan sekadar konflik wilayah, tetapi penjajahan yang merampas hak hidup, hak kebebasan, dan hak kemanusiaan saudara-saudara kita. Ketika sebuah bangsa dipaksa meninggalkan tanahnya, maka yang hilang bukan hanya rumah, tetapi juga harapan, masa depan, dan rasa aman, dan di sinilah iman kita diuji, apakah kita masih peduli terhadap penderitaan mereka ataukah kita memilih untuk berpaling dan menganggapnya sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan kita.
Kepedulian adalah Panggilan Keimanan
Ma’asyiral muslimin rahimaniyallahu wa iyyakum, kepedulian terhadap penderitaan saudara seiman bukan sekadar sikap kemanusiaan, tetapi panggilan keimanan yang diperintahkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
“Dan mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.’” (QS. An-Nisā’: 75)
Ayat ini dengan jelas memerintahkan umat Islam untuk membela kaum tertindas. Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin yang mengalami penindasan di berbagai tempat, termasuk saudara-saudara kita di Palestina. Bahkan lembaga-lembaga keislaman seperti Baznas menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar kuat bagi umat Islam untuk membantu Palestina sebagai bentuk pembelaan terhadap kaum tertindas.
Ayyuhal muslimun rahimakumullah, Rasulullah ﷺ juga menggambarkan betapa eratnya hubungan sesama kaum muslimin dalam sebuah hadits yang masyhur:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari, no. 6011; dan Muslim, no. 2586)
Hadits ini mengajarkan bahwa umat Islam adalah satu tubuh. Jika Palestina terluka, maka seharusnya hati kita juga merasakan luka. Jika mereka menangis, maka seharusnya kita tidak bisa diam. Karena kepedulian terhadap saudara seiman bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari iman yang hidup di dalam hati seorang muslim.
Sekilas Derita Saudara Muslim Palestina
Ikhwanal muslimin rahimakumullah, jika kita menoleh sejenak kepada penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, maka yang terlihat bukan sekadar konflik, tetapi derita kemanusiaan yang sangat memilukan. Rumah-rumah hancur rata dengan tanah, bangunan sekolah dan tempat ibadah menjadi puing-puing, sementara anak-anak kehilangan orang tua mereka dalam sekejap. Pengungsian terjadi di mana-mana, keluarga-keluarga terpisah, dan ribuan manusia hidup dalam ketidakpastian. Laporan kemanusiaan terbaru yang disampaikan oleh Spirit of Aqsa menyebutkan bahwa lebih dari 72.000 warga Palestina telah meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka sejak konflik berkepanjangan ini berlangsung. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi kisah duka yang menyelimuti ribuan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.
Ma’asyiral muslimin rahimaniyallahu wa iyyakum, di tengah penderitaan itu, saudara-saudara kita kehilangan tempat tinggal, hidup dalam keterbatasan makanan, dan menjalani hari-hari dalam ketakutan yang terus menghantui. Mereka tidak tahu apakah esok masih bisa melihat matahari, ataukah malam itu menjadi malam terakhir bagi mereka. Anak-anak tumbuh di tengah suara ledakan, ibu-ibu menenangkan buah hatinya dalam keadaan lapar, dan para ayah berusaha bertahan di tengah kehancuran. Penderitaan ini bukan hanya ujian bagi mereka, tetapi juga ujian bagi kita, apakah hati kita masih hidup dan mampu merasakan derita saudara seiman, ataukah kita mulai terbiasa mendengar kabar duka tanpa lagi merasakan kepedulian.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, penderitaan saudara-saudara kita di Palestina seharusnya menggugah hati dan kepedulian kita. Mereka kehilangan rumah, kehilangan keluarga, dan hidup dalam ketakutan yang terus menghantui. Dalam kondisi seperti ini, kita diingatkan oleh Ibnu Taimiyah yang berkata:
يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْرُ الْمَظْلُومِ، وَإِغَاثَةُ الْمَلْهُوفِ، وَإِعَانَةُ الضَّعِيفِ، بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ
“Kaum muslimin wajib menolong orang yang dizalimi, membantu orang yang tertimpa kesulitan, dan menguatkan orang yang lemah sesuai kemampuan.” (Majmu’ al-Fatawa, jilid 28, halaman 126).
Maka penderitaan mereka bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dihadirkan dalam kepedulian, doa, dan bantuan kita, karena kepedulian terhadap saudara seiman adalah bagian dari iman yang hidup di dalam hati seorang muslim.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُ
Mereka Membutuhkan Uluran Tangan Kita
Ma’asyiral muslimin rahimaniyallahu wa iyyakum, mungkin kita tidak mampu berangkat langsung ke Palestina, tidak pula kita berada di medan perjuangan bersama mereka, namun bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita masih bisa mengangkat tangan dalam doa, menyuarakan kepedulian, serta memberikan bantuan kemanusiaan sesuai kemampuan kita. Karena sesungguhnya bantuan tidak selalu harus dalam bentuk perang, tetapi bisa berupa kepedulian yang tulus dan dukungan nyata. Bahkan Majelis Ulama Indonesia dalam Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 menegaskan bahwa mendukung perjuangan Palestina hukumnya wajib sesuai kemampuan masing-masing. Ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap Palestina bukan sekadar simpati, tetapi bagian dari tanggung jawab keimanan. Maka jangan pernah merasa kecil ketika membantu, karena doa yang tulus, bantuan yang sedikit, dan kepedulian yang kita tunjukkan bisa menjadi harapan bagi saudara-saudara kita yang sedang berjuang mempertahankan hidup mereka di tengah penderitaan.
Jangan Berhenti Menyuarakan Palestina dan Ajakan Bertindah
Ayyuhal muslimun rahimakumullah, dunia boleh saja diam, sebagian manusia boleh saja berpaling, tetapi umat Islam tidak boleh kehilangan kepedulian terhadap saudara-saudaranya. Karena suara kita adalah kekuatan, dan kepedulian kita adalah bagian dari iman. Ketika kita menyuarakan Palestina, kita sedang menjaga nurani kemanusiaan dan mempertahankan persaudaraan keimanan. Jangan sampai penderitaan yang terus berlangsung membuat hati kita menjadi terbiasa dan akhirnya tidak lagi tersentuh. Sebab jika hati sudah tidak lagi peduli terhadap penderitaan saudara seiman, maka di situlah iman sedang diuji. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti menyuarakan Palestina, jangan biarkan mereka merasa sendirian, dan jangan biarkan dunia melupakan luka yang masih mereka rasakan hingga hari ini.
Ma’asyiral muslimin rahimaniyallahu wa iyyakum, mari kita wujudkan kepedulian itu dengan tindakan nyata, dengan doa yang tulus, dengan dukungan moral, dan dengan bantuan sesuai kemampuan kita. Jangan lupakan Palestina dalam doa-doa kita, karena doa adalah senjata orang beriman yang tidak pernah lemah. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani:
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.”
(HR. Thabrani no. 7614, dinilai hasan oleh sebagian ulama)
Hadits ini menjadi pengingat bagi kita bahwa kepedulian terhadap Palestina bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari identitas dan keimanan seorang muslim. Maka jangan berhenti menyuarakan Palestina, jangan berhenti peduli, dan jangan berhenti mendoakan saudara-saudara kita hingga Allah memberikan pertolongan dan kemenangan kepada mereka.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita menutup kepedulian ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Angkatlah tangan-tangan kita dengan penuh harap, memohon agar Allah menjaga saudara-saudara kita di Palestina, memberikan keselamatan kepada mereka, menguatkan kesabaran mereka, serta memberikan pertolongan dan kemenangan yang nyata. Karena doa orang-orang beriman adalah kekuatan yang tidak terlihat, namun mampu menembus langit dan menjadi harapan bagi mereka yang sedang tertindas. Semoga Allah mengangkat penderitaan mereka, melindungi Masjid Al-Aqsha, dan memberikan kemuliaan bagi kaum muslimin di Palestina.
قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ إِخْوَانَنَا فِي فِلَسْطِين، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ حَافِظًا وَنَاصِرًا وَمُعِينًا، اللَّهُمَّ سَلِّمْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَادْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةَ وَالطُّمَأْنِينَةَ وَالْأَمْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِين، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا عَزِيزًا مُؤَزَّرًا، اللَّهُمَّ أَيِّدْهُمْ بِتَأْيِيدِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمُ الصَّبْرَ وَالثَّبَاتَ، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيزُ.
اللَّهُمَّ كُنْ لِلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَهُمْ، وَنَفِّسْ كُرُوبَهُمْ، وَارْفَعِ الظُّلْمَ عَنْهُمْ، وَارْحَمْ ضُعْفَهُمْ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.
اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ فِي فِلَسْطِين، اللَّهُمَّ قَوِّ شَوْكَتَهُمْ، وَوَحِّدْ صُفُوفَهُمْ، وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.
اللَّهُمَّ انْصُرِ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاخْذُلْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، اللَّهُمَّ احْفَظْ فِلَسْطِين وَالْمَسْجِدَ الْأَقْصَى، اللَّهُمَّ اجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنْهُمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.